Kaos Distro – Yang Baik Hanya Untuk Yang Baik Pula

Faedah Surat An-Nuur 14 Laki-Laki Baik untuk Perempuan Baik

Laki-laki baik untuk perempuan baik. Kembali lanjutkan pelajaran Tafsir Surah An-Nuur ayat 23-26.

Tafsir Surah An-Nuur

Ayat 23-26

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (23) يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ (25) الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (26)
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 23-26)

Penjelasan Ayat

Ada tiga sifat yang disebutkan dalam ayat ini:
  • al-muhshanaat yaitu yang selalu menjaga kehormatan diri dari zina,
  • al-ghafilaat yaitu yang tak pernah terbetik dalam hatinya keinginan untuk berzina,
  • al-mu’minaat yaitu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Hati-hati menuduh wanita yang memiliki sifat seperti di atas dengan tuduhan ina. Yang menuduh akan mendapatkan laknat. Laknat Allah bermakna jauh dari rahmat Allah. Laknat dalam kasus ini berlaku di dunia dan akhirat. Sedangkan kalau laknat tersebut datangnya dari selain Allah, maka maksudnya adalah dikutuk, dicela, dan dijauhi.
Pada hari kiamat nanti, lisan, tangan, dan kaki akan menjadi saksi atas apa yang diperbuat oleh manusia. Contoh, lisan yang menuduh yang lain berzina tanpa bukti (qadzaf), maka akan bersaksi pada lisannya sendiri bahwa orang ini telah melakukan qadzaf, menuduh yang tidak benar.
Bagaimana mengompromikan antara ayat yang dikaji saat ini dengan ayat,
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65)?
Kaos Distro – Jawab Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa yang dimaksud kami tutup mulut mereka adalah mulut mereka tidak mengingkari perbuatan yang mereka lakukan. Lisan mereka bersaksi sesuai yang sebenarnya yang menyelisihi lisannya sendiri. Sehingga lisan itu ada dua macam, yaitu ada lisan syahid yang berbicara sesuai kenyataan dan inilah maksud ayat yang kita kaji saat ini dari surah An-Nuur. Lisan kedua adalah lisan mungkir, yaitu lisan yang mengingkari yang mendukung pembicaraan yang punya lisan. Ada hikmah, dalam surah An-Nuur didahulukan lisan daripada kaki dan tangan karena alur pembicaraan sedang membicarakan tentang qadzaf (menuduh zina) dan yang menuduh ini menggunakan lisan.
Diin dalam ayat ke-25 bermakna pembalasan. Karena diin kadang diartikan amal (agama) dan kadang diartikan dengan pembalasan amal. Pada surah Al-Maidah ayat ketiga disebutkan,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian.” Yang dimaksud diin di sini adalah agama atau amal, bukan yang dimaksudkan adalah pembalasan terhadap amal. Sedangkan pada ayat,
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Maaliki yaumid diin” yang dimaksud adalah Allah Yang Menguasai Hari Pembalasan, yaitu diin diartikan pembalasan terhadap amal. Ringkasnya, pada ayat ke-25 dari surah An-Nuur ini, makna diin adalah pembalasan terhadap amal.
Allah menjelaskan sesuatu sesuai dengan hakikat sebenarnya. Di dalam ayat ke-25 digunakan tiga cara ta’kid (penguatan makna),
وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ
bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)”, yaitu pertama dengan “inna”, kedua dengan dhamir fashel (huwa), ketiga dengan jumlah mubtada’-khabar yang kesemuanya menggunakan alif lam (isim ma’rifah). Sedangkan kata mubin dalam ayat tersebut bermakna jelas dan menjelaskan(kata lazim dan muta’addi). Makna mubin berarti kebenaran dari sisi Allah itu jelas dan di hari kiamat Allah akan menampakkan segala sesuatu dengan sejelas-jelasnya.
Kaos Distro – Pada ayat ke-26 disebutkan mengenai laki-laki yang baik-baik untuk perempuan yang baik-baik begitu pula sebaliknya. Kata khabits (jelek) ini merujuk kepada perkataan dan perbuatan. Dari sini kita simpulkan bahwa para nabi, terkhusus lagi nabi ‘ulul ‘azmi, terkhusus lagi Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi manusia terbaik secara mutlak, maka hanya mendapatkan istri yang baik-baik saja. Kalau ada yang menyatakan jelek kepada salah satu istri beliau seperti ‘Aisyah, maka berarti menyatakan jelek kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pula. Inilah inti bantahan tentang hadits ifki yang menuduh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berselingkuh. Kalau kita sudah mengetahui ia adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita sudah hukumi baiknya sebagaimana baiknya suaminya sebagai manusia terbaik.

Faedah dari Ayat

  1. Berat untuk menuduh qadzaf pada wanita yang baik-baik, yaitu yang menjaga diri dari zina, tak pernah punya keinginan untuk berzina, dan benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Tiga sifat yang disebutkan dalam ayat adalah sifat-sifat yang baik yang seharusnya dimiliki oleh setiap wanita muslimah.
  3. Hukuman laknat tidaklah ditujukan kecuali kepada perbuatan dosa besar (al-kabair). Berarti perbuatan qadzaf (menuduh yang lain berzina tanpa bukti) termasuk dosa besar.
  4. Yang menuduh wanita baik-baik berzina mendapatkan laknat sekaligus mendapatkan siksa yang pedih, menunjukkan siksaan dan hukuman yang berlipat-lipat untuknya.
  5. Allah sungguh adil, Allah jadikan saksi pada hari kiamat dari diri kita sendiri.
  6. Allah akan memberikan pembalasan dan memberikan penjelasan pada hari kiamat dengan begitu gamblangnya.
  7. Allah dapat membuat segala sesuatu dapat berbicara pada hari kiamat.
  8. Ada hari kebangkitan dan hari pembalasan.
  9. Al-jaza’ min jinsil ‘amal, artinya balasan itu sesuai dengan amal perbuatan. Makanya disebutkan kita akan dibalas sesuai yang kita amalkan.
  10. Keagungan Allah itu benar, perbuatan Allah itu benar adanya, beribadah kepada Allah juga suatu kebenaran, berjumpa dengan Allah kelak juga suatu yang benar, janji dan ancaman Allah juga benar, hari pembalasan juga benar adanya, Rasul yang diutus juga benar, sehingga tidak ada suatu yang benar kecuali pada Allah dan dari Allah.
  11. Umumnya laki-laki baik akan mendapatkan perempuan baik, begitu pula sebaliknya. Dan nantinya ada yang menyelisihi kaedah asal ini dalam kasus-kasus tertentu saja.
  12. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia yaitu surga. Berarti rezeki yang paling utama adalah mendapatkan surga.
  13. Hendaklah setiap orang mendudukkan yang lainnya sesuai dengan yang pantas untuknya. Yang baik didudukan dengan yang baik, dan seterusnya.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan kita semakin mudah dipahamkan Al-Qur’an.

Referensi:

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin;
  2. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Artikel Kajian Muslimah Gunungkidul di Masjid Besar Al-Huda Playen, disusun Sabtu pagi, 5 Sya’ban 1439 H, 21 April 2018
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Post a Comment (0)
Previous Post Next Post